Rabu, 21 Januari 2015

Megahnya Rumah Sultanku

          Aku mempercepat langkah ini. Menerobos kerumunan orang-orang yang hanya sekedar berfoto atau menikmati keindahan kota. Ku menghentikan langkah ini tepat di tengah jantung bangunan utama. "Akhirnya sampai juga". Ku mematung sesaat memandangi pintu yang luas itu. Megah sekali. Pantas saja kota ini selalu menjadi rebutan. Ku langkahkan kaki memasuki bangunan megah itu. Sangat luas dan berseni. Di dalamnya banyak orang sedang berfoto-foto atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati setiap ukiran di bangunan itu. Aya Sophia. Yah, menawarkan keindahan dan kekentalan islamnya. Aya Sophia yang awalnya adalah sebuah gereja ortodokx ini, akhirnya jatuh ke tangan islam. Siapa yang tak mengenal penakluk kota megah ini? Bizantium. Dia adalah Sultan Agung Mahmud II atau Muhammad Al-Fatih. Penakluk hebat sepanjang masa, Konstantinopel.
         Setelah puas berfoto-foto di Museum Aya Shopia, ku lanjutkan perjalanku ke keindahan Turki lainnya. yaitu Blue Mosque. Letaknya tak jauh dari Aya Sophia sendiri.Setelah sampai di Masjid Agung Biru itu, ku mendirikan sholat sunnah 2 rokaat sebagai bentuk penghormatanku terhadap rumah Sang Khalik ini. Dalam selipan doa, tak lupa ku mengucapkan syukur atas nikmat yang dilimpahkan padaku. Siapa yang menyangka bahwa aku bisa berdiri di tanah Timur Tengah ini? Tanah kelahiran Nabi, khususnya tanah berlimpah berkah dari Robbku. Turki.
          Benar. Turki adalah salah satu impianku. Betapa sering kumendengar cerita hebat dari negeri ini semasa di Indonesia. Bahkan karena kehebatan penakhluknya, Sultan Al-Fatih, ibuku pun memberiku nama Muhammad Ahsani yang merupakan nama kecil dari Sultan Al-Fatih. Beliau bahkan selalu menceritakan kepadaku tentang sosok hebat itu, agar aku kelak bisa seperti Al-Fatih yang arif bijaksana itu.
Ah. Pada akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan ibu meskipun tidak menjadi Al-Fatih yang sesungguhnya, tapi setidaknya aku berhasil menginjakkan kakiku di kota sang penakhluk ini. Ada rasa kebanggaan sendiri ketika ku berdiri di tanah ini.Yah, ini semua berkat Tuhan dan kerja kerasku. Tak luput doa ibu yang selalu menyertai setiap derai nafasku."Ibu, sebentar lagi aku akan membawamu kesini," janjiku pada diriku
sendiri.
          Selesai bermunajat kepada Sang Khaliq, kusempatkan untuk mengelilingi area masjid ini sambil terus mengabadikan setiap momen dan ukiran indah masjid dalam kamera SLR-ku. Ya, aku adalah seorang wartawan dari salah satu TV lokal di Indonesia. Dan ini adalah pertama kalinya kesempatan emas dalam hidupku, yaitu menjadi reporter VOA di negara impianku, Turki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar